Masih disela-sela kepadatan kerja tiba-tiba masuk chat dari adik bungsu yang sedang melanjutkan studi S3 di Taiwan, “oya mbak, ntar nek dah pada berangkat mochi enaknya gimana ya? πŸ˜…”

Iya, dari 3 bersaudara memang adik bungsu kami ini yang paling cerdas dan punya hobi belajar πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
Kakaknya? Lulus S1 aja berdarah-darah πŸ˜‚

Kurang lebih setahun yang lalu adik saya sekeluarga mengadopsi anak anjing yang diberi nama mochi dari @rrdcjogja. Dikeluarga kami yang suka hewan memang hanya bapak saya, keluarga saya dan keluarga adik bungsu kami ini. Jadi ketika kemudian istri dan anaknya berencana menyusul adik saya, mereka punya PR, mochi gimana?
Dan seperti biasanya sebagai kakak pertama saya selalu kebagian membereskan pr adik-adik kesayangan nya ini πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Setelah berdiskusi dengan keluarga kecil kami, akhirnya diputuskan bahwa untuk sementara waktu (3 tahun weeey) mochi akan tinggal bersama kami.
Tentu saja keputusan itu tidak sesederhana kedengarannya, terutama karena sudah ada 3 anak kaki empat dirumah kami.
Bisa jadi (pasti bun pasti) rumah akan terasa sedikit (banyaaaaaaak bun πŸ˜‚) lebih ramai, sedikit lebih berantakan, tapi juga semoga, jauh lebih hidup.

Kadang saya berpikir, mungkin memang begitu cara semesta bekerja, dikasih β€œtitipan” tambahan, bukan sekedar untuk merepotkan, tapi untuk mengingatkan kita kalau kasih sayang itu bisa terus melebar tanpa perlu takut berkurang di tempat lain πŸ™‚
Mungkin karena di balik semua kerepotan, kita belajar tentang arti rumah yang sebenarnya, bukan sekadar tempat untuk pulang, tapi juga tempat di mana cinta terus bertumbuh, meski bentuknya kadang berkaki empat dan berbulu 🐾🐾🐾

Leave a Reply